Recent Posts
Recent Comments
No comments to show.
Archives
- May 2026
- March 2026
- February 2026
- December 2025
- November 2025
- October 2025
- September 2025
- August 2025
- July 2025
- June 2025
- May 2025
- March 2025
- February 2025
- November 2024
- October 2024
- September 2024
- August 2024
- June 2024
- May 2024
- March 2024
- February 2024
- January 2024
- December 2023
- November 2023
- September 2022
- August 2022
- July 2022
- June 2022
- May 2022
- April 2022
- March 2022
- February 2022
- January 2022
- November 2021
- October 2021
- August 2021
- July 2021
- June 2021
- May 2021
- April 2021
- March 2021
- February 2021
- January 2021
- October 2020
- August 2020
- February 2020
- January 2020
- November 2019
- October 2019
- September 2019
- August 2019
- April 2019
- March 2019
- February 2019
- August 2017
- March 2017
Tags
- akreditasi
- Alumni
- Diskusi Publik
- Dosen
- Dosen Tamu
- Ekspedisi Indonesia Hebat
- FISIP Unsoed
- Guru Besa Unsoed
- Himapol
- IKAPOL
- Ilmu Politik
- Ilmu Politik Unsoed
- Kompetisi Debat
- KPU Banyumas
- Lomba Esai
- Mahasiswa Ilmu Politik
- Mahasiswa Papua
- MBKM
- National University Debate Championship
- P2MW
- Papua
- Pelatihan
- Pembelajaran
- Pemberdayaan Masyarakat
- PKL
- PMM
- seminar akademik
Sastra dan politik; dua dunia yang seolah terpisah sebenarnya terkait erat karena pada dasarnya tidak ada yang tidak bersifat politis. Misalnya, dalam konteks Indonesia, kelahiran angkatan sastra tidak bisa dilepaskan dari peristiwa traumatik dan bersejarah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Demikian disampaikan Nissa Rengganis dalam kuliah dosen tamu Jurusan Ilmu Politik untuk mata kuliah ‘Teori Poskolonial dan Politik Kebudayaan Kontemporer’ yang diselenggarakan pada Selasa (24/05).
Keterkaitan antara sastra dan politik juga bisa dilihat dari perdebatan tentang apakah sebuah karya sastra sebaiknya secara eksplisit mengusung ideologi tertentu ataukah merupakan bentuk ekspresi seni yang bebas/seni untuk seni. Perdebatan yang pernah mewarnai dan membentuk politik kebudayaan di Indonesia itu mewakili dua kutub ideologi berbeda dan karenanya memiliki implikasi politik dan kebijakan yang berbeda pula.
Nissa Rengganis adalah alumni Jurusan Ilmu Politik Unsoed yang menjadi dosen di Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Cirebon. Selain aktif di dunia akademis, dia juga berkarya di dunia sastra dengan menulis puisi yang sebagiannya diterbitkan dalam buku terbarunya yang berjudul ‘Suara dari Pengungsian’. Di bidang sosial, dia mendirikan dan aktif mengelola komunitas literasi di Cirebon.***
AUTHOR
admin