Recent Posts
Recent Comments
No comments to show.
Archives
- May 2026
- March 2026
- February 2026
- December 2025
- November 2025
- October 2025
- September 2025
- August 2025
- July 2025
- June 2025
- May 2025
- March 2025
- February 2025
- November 2024
- October 2024
- September 2024
- August 2024
- June 2024
- May 2024
- March 2024
- February 2024
- January 2024
- December 2023
- November 2023
- September 2022
- August 2022
- July 2022
- June 2022
- May 2022
- April 2022
- March 2022
- February 2022
- January 2022
- November 2021
- October 2021
- August 2021
- July 2021
- June 2021
- May 2021
- April 2021
- March 2021
- February 2021
- January 2021
- October 2020
- August 2020
- February 2020
- January 2020
- November 2019
- October 2019
- September 2019
- August 2019
- April 2019
- March 2019
- February 2019
- August 2017
- March 2017
Tags
- akreditasi
- Alumni
- Diskusi Publik
- Dosen
- Dosen Tamu
- Ekspedisi Indonesia Hebat
- FISIP Unsoed
- Guru Besa Unsoed
- Himapol
- IKAPOL
- Ilmu Politik
- Ilmu Politik Unsoed
- Kompetisi Debat
- KPU Banyumas
- Lomba Esai
- Mahasiswa Ilmu Politik
- Mahasiswa Papua
- MBKM
- National University Debate Championship
- P2MW
- Papua
- Pelatihan
- Pembelajaran
- Pemberdayaan Masyarakat
- PKL
- PMM
- seminar akademik
Dalam rangka memperingati 26 tahun reformasi, Laboratorium Ilmu Politik FISIP UNSOED menggelar bedah buku “Pendapat dan Pandangan: Kumpulan Tulisan 1990-2009” karya Alex Moenan di Auditorium FISIP (21/05). Buku ini dibedah oleh sejumlah pakar, yakni Ahmad Sabiq (Kepala Laboratorium Ilmu Politik), Barid Hardiyanto (aktivis ’98 dan officer expert LPPSLH), Tyas Retno Wulan (Sosiolog FISIP Unsoed), dan Bowo Sugiarto (Dosen Ilmu Politik). Siswa Santoso, editor buku dari Stichting Azië Studies, Belanda, juga hadir untuk memberikan pengantar.
Alex Moenan, yang dikenal sebagai seorang eksil, lahir pada 2 Mei 1924 di Semarang dari keluarga priyayi Jawa. Sebagai seorang akademisi pada Juli 1965 ia berangkat ke Berlin atas undangan Institut Ilmu Sosial. Bulan-bulan berikutnya terjadi turbulensi politik di Indonesia dan setelah peristiwa 30 September 1965, Alex tidak dapat kembali ke Indonesia. Ia kemudian terpaksa menetap di Belanda, di mana ia terus mendukung gerakan pro-demokrasi di Indonesia.
Siswa Santoso menekankan pentingnya penerbitan edisi terbaru ini untuk memperingati 100 tahun kelahiran Alex Moenan. “Karya-karya Alex Moenan, yang dihasilkan sejak 35 tahun lalu dan pertama kali diterbitkan di tahun 2009, tetap relevan dengan situasi Indonesia saat ini. Buku ini menawarkan pandangan dan analisis yang tajam tentang berbagai masalah sosial, politik, dan ekonomi yang dihadapi bangsa Indonesia,” ujar Siswa.
Buku “Pendapat dan Pandangan: Kumpulan Tulisan 1990-2009” mencakup refleksi dan analisis tentang sosialisme, dampak krisis ekonomi global, serta tragedi nasional 1965, dan dampaknya terhadap impunitas di Indonesia. Tyas Retno Wulan, sosiolog FISIP Unsoed, memberikan komentarnya, “Tulisan-tulisan Alex Moenan memberikan pelajaran berharga bagi generasi muda dalam mengembangkan kemampuan berfikir kritis dan keberanian untuk menghadapi tantangan intelektual serta dinamika sosial yang kompleks.”
AUTHOR
admin